
Bandar Bola - Ratusan warga korban banjir pada empat desa di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, hingga saat ini belum mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Padahal, beberapa dari mereka mengeluh mulai terkena gatal-gatal dan diare.
Para pengungsi mengharapkan bantuan obat-obatan dan logistik. Sebab, banjir sudah melanda sejak sebulan terakhir, Seperti yang dilansir oleh Bandar Bola Hokbet88.net
Kepala Desa Air Itam, Feri Hasbullah, di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mengatakan, warga mengeluhkan kondisi terjadi karena sudah hampir satu bulan tidak dapat beraktivitas normal.
"Warga mulai mengeluh terkena penyakit gatal-gatal dan diare, selain itu aktivitas ekonomi juga terganggu sehingga tidak ada pemasukan uang bagi keluarga," kata Feri, Jumat (11/3).
Ratusan rumah warga Desa Air Itam terendam banjir rutin menyapa saban tahun, hingga ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Akibatnya, warga kami tidak dapat pergi ke kebun dan sawah.
"Warga sangat mengharapkan bantuan obat-obatan karena air yang sudah bercampur dengan kuman-kuman dan limbah," ujar Feri.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PALI, Rusman Firman mengatakan, mereka selama ini cuma memantau daerah rentan terhadap bencana banjir. Namun, dia lepas tangan soal bantuan makanan dan obat.
"BPBD terus memantau dan mengevakuasi apabila warga membutuhkan bantuan, sedangkan untuk bantuan makanan dan obat-obatan itu tanggung jawab dinas terkait," kata Rusman, seperti dilansir dari Antara.
Respon Pemkab PALI pun dianggap sangat lamban. Sebab mereka beralasan, bantuan belum dikirim ke empat desa itu karena masih membutuhkan data akurat mengenai jumlah korban.
"Pemkab masih menunggu. Saat ini camat sedang memerintahkan kepala desa untuk mendata warganya yang terendam banjir. Selain itu, pemkab juga terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten PALI untuk mengetahui lahan atau kebun warga yang juga terendam," kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten PALI, Zulkifli.
Zulkfli berdalih, bantuan dari Dinsos tidak bisa diberikan secara cepat karena proses berbelit. Menurut dia, ada beberapa tahapan harus dilalui hanya buat mengirim makanan dan obat.
"Bantuan dari pemerintah akan diberikan apabila satu minggu warga tetap terendam banjir, baru kemudian camat melalui kades setempat mendata korban. Setelah itu, data korban itu diajukan ke Dinas Sosial Provinsi Sumsel untuk kemudian diteruskan ke gudang bulog yang ada di Palembang," ujar Zulkifli.
Setelah itu, lanjut Zulkifli, Dinsos akan mengambil beras bulog tersebut ke Gudang Bulog Lahan, baru dibagikan secara langsung ke warga menjadi korban banjir. Dia beralasan, bantuan lekas turun kalau rumah warga roboh atau kebakaran.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten PALI, Irwan, mengkritik lambannya kerja dan proses berbelit di Dinsos. Menurut dia seharusnya pemerintah setempat sigap membantu, melihat kondisi warga sudah empat minggu ini terendam banjir.
"Banjir ini memang tahunan. Namun Dinsos tetap harus mengambil langkah cepat dalam menanggulangi musibah karena telah berdampak pada kondisi perekonomian warga yang lumpuh, penyebaran penyakit, dan terhambatnya proses belajar mengajar untuk anak-anak didik," kata Irwan.
Politikus Partai Golkar itu menilai, seharusnya Dinsos punya strategi khusus buat mengatasi rumitnya proses administrasi. Hal itu supaya setiap kejadian berulang tidak menghadapi persoalan serupa.
"Intinya warga yang sedang kesusahan harus segera dibantu. Mereka tidak mengerti harus melewati proses administrasi yang berbelit-belit," ujar Irwan.
Bandar Bola Hokbet88.net


0 komentar:
Posting Komentar